Berita islam terkini

Maqam dalam Tasawuf


Oleh:
Dr. H. Said Aqil Siroj
Ketua Umum PBNU

Maqam yaitu istilah dalam tasawuf untuk menyebut berbagai kedudukan pendakian (tempat/tingkatan/derajat) rohani yang harus ditempuh salik agar bisa wushul (sampai) kepada Allah. Di Nusantara, maqam digunakan juga untuk menyebut petilasan (jejak) dan kuburan (maqbaroh).


 Rabithah MURSYID
Bagi seseorang yang memasuki dunia tasawuf ada 3 proses yang harus dilalui. Masing-masing proses diatas memiliki 3 tingkatan (maqam) dalam menjalani titian tasawuf. Dalam setiap titian pelakunya memiliki situasi-situasi tertentu.


1. Takhalli (pembersihan diri)
    - taubat
    - wara'i
    - zuhud
2. Tahalli (menghias diri)
    - tawakal
    - ridha
    - syukur
3. Tajalli (manifestasi)
    - mahabbah
    - tuma'ninah
    - ma'rifat


Keterangan :


1. Takhalli (pembersihan diri)

- Taubat
Yang dimaksud Taubat itu bukan hanya sekadar mengucap astaghfirullah atau mohon ampunan kepada Allah, tapi perubahan sikap. Astghafirullah hanya lafadnya.

Taubat itu terbagi ke dalam 3 tingkatan:

- Taubatnya orang awam, yaitu taubat dari segala dosa.
- Taubatnya ulama, yaitu taubat dari lupa.
- Taubatnya ahli tasawuf, yaitu taubat dari merasa dirinya ada (eksis).

Setiap orang yang merasa dirinya “ada”, bisa jatuh ke dalam kemusyrikan. Kita ini adalah “maujud” (diadakan). Kita hidup 30, 50, 100 tahun hanyalah “diadakan”. Sedangkan yang “ada” (wujud) hanyalah Allah. Dialah yang mengadakan kita. Kita harus merasa sementara dan diadakannya. Tidak ada “aku” yang sesungguhya, kecuali “Aku”nya Allah, la ilaha ila ana. Tidak ada “dia” yang sesungguhnya kecuali “Dia” allah, lai ilaha ilah huwa. Tidak ada kamu yang sesungguhnya, kecuali Kamu Allah, la ilaha ila anta.

- Wara’i

Orang yang mencapai maqam ini melihat segala sesuatu dengan hati-hati. Yang tidak betul-betul halal, tidak akan diambilnya. Tidak akan mengambil kedudukan yang bukan miliknya.

- Zuhud

Memandang rendah dunia. Misalnya dapat uang 10 juta biasa-biasa saja. Hilang 10 juta juga biasa-biasa saja. Zuhud itu bukan berarti harus melarat, tapi lebih pada sikap. Orang kaya bisa zuhud, orang melarat bisa serakah. Tapi zuhud lebih pada sikap dan cara pandang orang terhadap dunia. Ia menyikapi selain Allah itu kecil.
Efek spritual temporalnya adalah khauf, atau takut kepada Allah. “Segala amal soleh dan ibadah yang dilakukannya adalah lita’abud, untuk beribadah.”


2. Tahalli (menghias diri)

- Tawakal

Pasrah kepada Allah. Orang yang tawakal, jika melakukan sesuatu, tidak mengandalkan upayanya, tapi hanya kepada Allah.
Hujjataul Islam, Imam Ghazali mencontohkan orang tawakal. Misalnya, ketika api yang membakar kertas dan terbakar, ia mengatakan yang membakar kertas itu memang api, tapi atas kehendak Allah.
Nabi Ibrahim ketika dibakar Namrud. Api tak kuasa membakarnya sebab Allah tidak mengizikannya.

- Ridha

Apapun yang terjadi, apapun yang didapat, diterima dengan suka cita, tidak sedikit pun gelisah dan mengeluh.

- Syukur

Selalu mensyukuri apa yang diterima dari Allah. Apapun wujudnya tetap bersyukur. Ketika diredaksikan, syukur itu mengucap "Alhamdulillah". Tapi bukan berarti ucapan saja, melainkan sikap.
Efek spiritual temporalnya yang timbul adalah roja’ (optimis kepada Allah). Sementara ibadah dalam maqom ini adalah li-taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah. Bukan ingin sorga atau benci dengan neraka, tapi ingin dekat dengan Allah.


3. Tajjali (manifestasi)

- Mahabbah

Adalah maqom cinta kepada Allah. Kalau sudah cinta kepada-Nya, kepada apapun cinta, mencintai segalanya. Orang yang menapaki maqom tersebut, yang cantik, yang jelek, yang pintar, yang bodoh, yang kaya, yang miskin, semua dicintainya. Karena semuanya yang ada itu adalah tanda-tanda keagungan Allah.

- Tuma’ninah

Selalu full happy atau enjoy. Hati orang yang menempuh jalan tuma’ninah adalah tenang. Tuma’ninah bukan di rumah, mobil, uang, tapi dalam hati.

- Ma’rifat

Sepersi pengalaman Imam Al Ghazali sepulang menyepi (berkhalwat) di masjid Damaskus. Setelah keluar dari masjid tersebut, ia tak bisa mengatakan pengalamannya. Ilmu ma’rifah tak bisa dituliskan. Tak bisa diceritakan. Tidak bisa diajarkan dengan kata-kata. Orang yang sedang mengalami maqom ma’rifat, tahu betul bahwa segala sesuatu dari Allah, untuk Allah, karena Allah, bersama Allah. Tanpa itu sedetik saja, dunia hancur.
Efek spirutual temporalnya adalah al-uns, harmonis. Amal salehnya, bukan karena lita’abud (ibadah), bukan litaqorub (ingin dekat dengan Allah), melainkan litahaquq (mencari hakikat).


Maqam-maqam tersebut adalah versi ringkasnya. Para ahli tasawuf berbeda rincian maqamnya. Misalnya, menurut Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, terdapat 40 maqam tasawuf. Sementara Imam Al Ghazali berpendapat ada 14 tingkatan. Perbedaan-perbedaan ini dapat dijumpai dalam berbagai tarekat dan literatur sufi. Pada umumnya perbedaan ini, terutama dalam menentukan jumlah maqam, tergantung dari pengalaman pendakian sang sufi dan pencapaian diri. Pencapaian itu sendiri adalah anugrah dari Allah yang masing-masing salik memiliki kedudukan yang tidak sama, sehingga menyebabkan perbedaan dalam menteorisasikan maqomat. Sebagian apa yang disebut seorang guru sebagai maqam, oleh guru lain disebut sebagai "hal" (keadaan tertentu) saja.
Baca juga:


( sumber: nu.or.id )

Maqam dalam Tasawuf Rating: 4.5 Posted by: Abu sigly Ahlussunnah waljamaah